
Ane akui dalam memulai sebuah tulisan sangat sulit, harus nyari
inspirasi dulu dari mana ane memulainya, akhirnya beberapa saat kemudian temen
ane berkata, “ ngapaen ente, pengen nyari ilham ? nah ternyata ucapan itu telah
menginspirasi ane untuk memulai tulisan ini. Mencari ilham di nama Ilham, kebetulan nama ane Ilham, jadi
tulisan ini tidak akan jauh-jauh dari Ilham. Semoga tulisan ini akan menginspirasi semua
orang yang membacanya, semoga ada kebaikan yang didapat dari tulisan yang
sangat sederhana ini bukan pujian yang ane inginkan tapi semata-mata brebagi
informasi yang mungkin berguna buat para pembaca, karena manusia yang paling
baik adalah yang mampu menebar kebaikan dan manfaat buat orang lain.
Em...................... sewaktu ane masih anak piyak (masih kecil) ane
lupa umur ane berapa waktu itu tapi kalau tidak salah atau khilaf,
waktu itu ane telah lulus dari SD dan mau melanjutkan ke sekolah atau tingkat
yang lebih tinggi lagi, waktu itu sodare ane sakit-sakitan, umurnya kira-kira
sepuluh tahun (10), sudah kelas tiga (3) SD, entah sakit apa, ane juga tidak
tahu, namun sakit yang dia derita telah membawanya kepangkuan Ilahi, takdir
telah menentukan demikian, maut telah memisahkan kami dengan Dia, Tuhan telah
ambil nyawanya, dan harus memisahkan kami dengannya buat selama-lamanya , yang
masih ane rasakan dan masih terngiang-ngiang di benak ane adalah banyak pesan
yang tersirat dari kematian yang telah dia tinggalkan, sebuah i’tibar dan ilmu
yang telah Dia ajarkan.
Sewaktu sodare ane terbaring sakit, banyak kejadian yang Dia alami dan
rasakan. Dia banyak cerita kepada Ibunda yang selalu berada disampingnya. Karena
Ibundalah yang selalu menjaga dan merawat saat sodare ane terbaring sakit,
mungkin semua yang telah dirasakan sodare ane merupakan pesan kepada ane,
keluarga, bahkan semua kita yang masih diberi umur dan masih dapat meghirup
udara segar dunia ini, agar perlu
mempersiapkan bekal untuk menghadapi sakaratul maut dan saat berjumpa dengan
Tuhan. Pada saat sodare ane sakit, disaat Dia terbaring Dia melihat dan
merasakan beberapa peristiwa diluar
nalar indera kita, saat itu Dia melihat dan merasakan bahwa ada sesosok orang
yang datang memakai baju putih, dengan muka terseyum manis, memperlihatkan suasana
yang nyaman dan menenteramkan sodare ane, orang itu sangat menarik hati, tampan
sekali dan dengan tampang yang sangat memesona, Dia mengatakan kepada Ibunda,
katanya denga logat dan dialek banjar yang kental “ma ulun melihat laki-laki
bungas banar urangnya tersenym ma ai malihat ulun, itu bisa malaikat nang handak
mancabut/maambili ulun, inya kadada bapander macam-macam pang hanya tersenyum
ja, sesaat kemudian sodare ane berkata lagi, “ma ada kakanakan datang mambawa
mainan banyak banar, mambawai ulun bamainan ma ai, jar guru ma ai waktu di
sekolahan, waktu bayi tu dilahirkan disertai dengan beberapa sodaranya, mun
kda kalah ada empat ma ai, mungkin bujur ma lah bahwa kita ne ada baisi sodara
(saudara). Dan nang datangan yang ulun lihat tu adalah sodara-sodara ulun,
beberapa lama kemudian, sodare ane berkata lagi, “ma ada nang datang mengaku
Tuhan maka jar guru ulun kalo ada nang mengaku Tuhan itu sebenarnya bukan
Tuhan tapi iblis nang handak menyesatkan manusia, Tuhan itu kada kawa dilihat
dan kada mungkin berwujud manusia, berarti ma ai nang datang mengaku Tuhan itu
Iblis nang handak menyesatkan dan menjadikan ulun kafir, supaya inya baisi kwan di
Neraka kena”.
Itulah sedikit peristiwa yang dialami sodare ane di saat ajal akan
menjemputnya, sebuah i’tibar dan pesan kepada kita yang masih hidup. Kelak kita
juga akan menyusul Dia kembali kehadirat Ilahi Robbi, karena kematian merupakan
sesuatu yang pasti akan menemui kita, dimana dan kapan akan datang Wallahu ‘alam,
hanya tuhan yang tahu, yang perlu kita
sikapi adalah sudahkah kita bersiap-siap menghadapi mati, apa yang harus kita
bawa kehadirat Ilahi, siapkah kita dengan segala resiko yang akan ditanggung
ketika berhadapan dengan sang Pengadil, sudahkan kita berbuat maksimal agar
saat ajal menjemput tidak akan terasa sangat sakit, karena konon ceritanya,
saat nyawa kita akan dipisahkan dari jasad luar biasa sakitnya, dan semua itu
tergantung dengan amal kita, jika kita tergolong orang baik (calon penghuni
syurga) semaksimal mungkin roh yang akan dicabut disarakan tidak terlalu sakit,
tapi sebaliknya, kalau kita tergolong manusia jahat (calon penghuni Neraka)
maka saat roh dicabut akan sangat terasa sakitnya. Cerita yang ane paparkan
melalui peristiwa sodare ane tadi adalah gambaran, sebuah i’tibar bagi kita
yang masih hidup, begitulah saat dan detik-detik kematian kita akan tiba,
gambaran situasi menjelang ajal akan berpisah dari jasad, kita akan menemui
situasi dimana Tuhan akan mengutus malaikatnya agar memberikan sebuah tanda
atau indikasi kepada calon mayit bahwa Dia akan dijemput sesaat lagi menghadap
sang Khaliq. Malaikat itu akan berwujud sesuai dengan akhlak perbuatan yang kita
lakukan. Jika kita termasuk calon penghuni Syurga maka perwujudan dari malaikat
itu seperti laki-laki tampan dengan sosok yang sangat baik, tersenyum manis
seakan-akan memberikan sebuah sinyal bahwa jangan takut dan kawatir kamu akan
dijemput menghadap Tuhan dengan baik, karena kamu adalah calon penghuni Syurga,
kamu adalah tamu Allah, malaikat itu akan berusaha menghibur agar di saat rohnya
dicabut nanti tidak terasa sangat sakit, karena roh yang akan berpisah dengan
jasad sangat terasa sakitnya.
Kemudian kemungkinan anak-anak yang dilihat oleh sodare ane itu adalah
Pelayan-pelayan Allah dari Syurga, yang datang supaya sodare ane mau ikut
dengan mereka ke dimensi dunia lain di luar sana yang lebih indah dan enak
serta layak untuk ditempati ketimbang dengan alam yang saat itu Dia
tempati,karena waktu itu sodare ane masih kecil maka petunjuknya adalah
anak-anak kecil yang sedang bermain dengan membawa segudang permainan yang
disukai anak-anak lain seusianya, atau mungkin juga benar apa yang telah diutarakan
sodare ane, bahwa anak-anak kecil yang datang
itu adalah sodare-sodarenya yang dulu menyertai pada saat sodare ane
dilahirkan, Wallahu ‘alam. Yang terakhir adalah sang Iblis yang datang mengaku
sebagai Tuhan, karena sodare ane tergolong sudah dapat membedakan mana yang
baik dan tidak, mana yang benar dan salah, maka pengakuan Iblis tersebut
ditolaknya mentah-mentah,karena dia pernah belajar dan tahu bahwa “tiada Tuhan
selain Allah, Tuhan yang tidak berwujud seperti manusia, dan sama sekali tidak
serupa dengan manusia. Pengalaman pribadi yang real ini hendaknya menjadi
renungan buat kita semua, bahwa kematian itu pasti akan datang menemui kita yang hidup, kita hanya menunggu waktu dan giliran, kapan ajal akan
menjemput, memisahkan roh dari jasad, kita pasti akan kembali kepada sang
Khaliq, Tuhan pencipta alam semesta, hura-hara dan gangguan di saat detik-detik
kematian pasti juga akan kita rasakan seperti halnya apa yang telah
diceritakan dan dirasakan sendiri oleh
sodare ane, peristiwa dan cerita yang telah ane paparkan bukanlah suatu bualan
kebohongan atau fiktf belaka, itu real terjadi di kehidupan sodare ane,
yang sumbernya dari Ibu ane sendiri sebagai saksi hidup. Dan cerita yang ane
paparkan ini baru saja ane peroleh sewaktu ane pulkam lebaran Idul Adha kemarin, ketika ane dan Ibu ane
berbincang-bincang di suatu malam, pada saat itu ayah ane juga ikut
mendengarkan, ane menyimak dengan seksama cerita Ibunda dan ane rekam di memori
otak, baru sekarang semua informasi yang ane dengar dari Ibunda ane
publikasikan kepada siapa siapa saja yang membacanya. Semoga ini menjadi
renungan buat kita semua, ternyata matu itu tidak mudahm harus melalui
lika-liku dan gangguan, siapa yang terhindar dan melaluinya Dia akan selamat,
siapa yang tidak Dia akan menjali calon penghuni Neraka, ane berkesimpulan
bahwa peristiwa yang sodare ane alami bukan merupakan halusinasi tapi itu
merupakan indikasi yang menunjukkan sodare ane tergolong hambanya yang baik. Terakhir
ane mengutip sebuah kata-kata :
خذ
الحكمة من أي وعاء خرجت : Ambillah hikmah (ilmu) itu dari manapun ia keluar (dari manapun sumbernya).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar