wise word

wise word

janganlah kamu minta sesuatu kepada manusia, mintalah kepada dzat yang pintu-pintunya tidak pernah tertutup,Allah marah jika kamu tidak meminta kepada-Nya, dan manusia jika dimintai sesuatu mereka akan marah .—ilham blog spot

KEMATIAN MERUPAKAN KENISCAYAAN



 Ane akui dalam memulai sebuah tulisan sangat sulit, harus nyari inspirasi dulu dari mana ane memulainya, akhirnya beberapa saat kemudian temen ane berkata, “ ngapaen ente, pengen nyari ilham ? nah ternyata ucapan itu telah menginspirasi ane untuk memulai tulisan ini. Mencari ilham  di nama Ilham, kebetulan nama ane Ilham, jadi tulisan ini tidak akan jauh-jauh dari Ilham.  Semoga tulisan ini akan menginspirasi semua orang yang membacanya, semoga ada kebaikan yang didapat dari tulisan yang sangat sederhana ini bukan pujian yang ane inginkan tapi semata-mata brebagi informasi yang mungkin berguna buat para pembaca, karena manusia yang paling baik adalah yang mampu menebar kebaikan dan manfaat buat orang lain.
Em...................... sewaktu ane masih anak piyak (masih kecil) ane lupa umur ane berapa  waktu itu tapi kalau tidak salah atau khilaf, waktu itu ane telah lulus dari SD dan mau melanjutkan ke sekolah atau tingkat yang lebih tinggi lagi, waktu itu sodare ane sakit-sakitan, umurnya kira-kira sepuluh tahun (10), sudah kelas tiga (3) SD, entah sakit apa, ane juga tidak tahu, namun sakit yang dia derita telah membawanya kepangkuan Ilahi, takdir telah menentukan demikian, maut telah memisahkan kami dengan Dia, Tuhan telah ambil nyawanya, dan harus memisahkan kami dengannya buat selama-lamanya , yang masih ane rasakan dan masih terngiang-ngiang di benak ane adalah banyak pesan yang tersirat dari kematian yang telah dia tinggalkan, sebuah i’tibar dan ilmu yang telah Dia ajarkan.
Sewaktu sodare ane terbaring sakit, banyak kejadian yang Dia alami dan rasakan. Dia banyak cerita kepada Ibunda yang selalu berada disampingnya. Karena Ibundalah yang selalu menjaga dan merawat saat sodare ane terbaring sakit, mungkin semua yang telah dirasakan sodare ane merupakan pesan kepada ane, keluarga, bahkan semua kita yang masih diberi umur dan masih dapat meghirup udara segar dunia ini,  agar perlu mempersiapkan bekal untuk menghadapi sakaratul maut dan saat berjumpa dengan Tuhan. Pada saat sodare ane sakit, disaat Dia terbaring Dia melihat dan merasakan beberapa  peristiwa diluar nalar indera kita, saat itu Dia melihat dan merasakan bahwa ada sesosok orang yang datang memakai baju putih, dengan muka terseyum manis, memperlihatkan suasana yang nyaman dan menenteramkan sodare ane, orang itu sangat menarik hati, tampan sekali dan dengan tampang yang sangat memesona, Dia mengatakan kepada Ibunda, katanya denga logat dan dialek banjar yang kental “ma ulun melihat laki-laki bungas banar urangnya tersenym ma ai malihat ulun, itu bisa malaikat nang handak mancabut/maambili ulun, inya kadada bapander macam-macam pang hanya tersenyum ja, sesaat kemudian sodare ane berkata lagi, “ma ada kakanakan datang mambawa mainan banyak banar, mambawai ulun bamainan ma ai, jar guru ma ai waktu di sekolahan, waktu bayi tu dilahirkan disertai dengan beberapa sodaranya, mun kda kalah ada empat ma ai, mungkin bujur ma lah bahwa kita ne ada baisi sodara (saudara). Dan nang datangan yang ulun lihat tu adalah sodara-sodara ulun, beberapa lama kemudian, sodare ane berkata lagi, “ma ada nang datang mengaku Tuhan maka jar guru ulun kalo ada nang mengaku Tuhan itu sebenarnya bukan Tuhan tapi iblis nang handak menyesatkan manusia, Tuhan itu kada kawa dilihat dan kada mungkin berwujud manusia, berarti ma ai nang datang mengaku Tuhan itu Iblis nang handak menyesatkan dan menjadikan ulun kafir, supaya inya baisi kwan di Neraka kena”.   
Itulah sedikit peristiwa yang dialami sodare ane di saat ajal akan menjemputnya, sebuah i’tibar dan pesan kepada kita yang masih hidup. Kelak kita juga akan menyusul Dia kembali kehadirat Ilahi Robbi, karena kematian merupakan sesuatu yang pasti akan menemui kita, dimana dan kapan akan datang Wallahu ‘alam, hanya  tuhan yang tahu, yang perlu kita sikapi adalah sudahkah kita bersiap-siap menghadapi mati, apa yang harus kita bawa kehadirat Ilahi, siapkah kita dengan segala resiko yang akan ditanggung ketika berhadapan dengan sang Pengadil, sudahkan kita berbuat maksimal agar saat ajal menjemput tidak akan terasa sangat sakit, karena konon ceritanya, saat nyawa kita akan dipisahkan dari jasad luar biasa sakitnya, dan semua itu tergantung dengan amal kita, jika kita tergolong orang baik (calon penghuni syurga) semaksimal mungkin roh yang akan dicabut disarakan tidak terlalu sakit, tapi sebaliknya, kalau kita tergolong manusia jahat (calon penghuni Neraka) maka saat roh dicabut akan sangat terasa sakitnya. Cerita yang ane paparkan melalui peristiwa sodare ane tadi adalah gambaran, sebuah i’tibar bagi kita yang masih hidup, begitulah saat dan detik-detik kematian kita akan tiba, gambaran situasi menjelang ajal akan berpisah dari jasad, kita akan menemui situasi dimana Tuhan akan mengutus malaikatnya agar memberikan sebuah tanda atau indikasi kepada calon mayit bahwa Dia akan dijemput sesaat lagi menghadap sang Khaliq. Malaikat itu akan berwujud sesuai dengan akhlak perbuatan yang kita lakukan. Jika kita termasuk calon penghuni Syurga maka perwujudan dari malaikat itu seperti laki-laki tampan dengan sosok yang sangat baik, tersenyum manis seakan-akan memberikan sebuah sinyal bahwa jangan takut dan kawatir kamu akan dijemput menghadap Tuhan dengan baik, karena kamu adalah calon penghuni Syurga, kamu adalah tamu Allah, malaikat itu akan berusaha menghibur agar di saat rohnya dicabut nanti tidak terasa sangat sakit, karena roh yang akan berpisah dengan jasad sangat terasa sakitnya.
Kemudian kemungkinan anak-anak yang dilihat oleh sodare ane itu adalah Pelayan-pelayan Allah dari Syurga, yang datang supaya sodare ane mau ikut dengan mereka ke dimensi dunia lain di luar sana yang lebih indah dan enak serta layak untuk ditempati ketimbang dengan alam yang saat itu Dia tempati,karena waktu itu sodare ane masih kecil maka petunjuknya adalah anak-anak kecil yang sedang bermain dengan membawa segudang permainan yang disukai anak-anak lain seusianya, atau mungkin juga benar apa yang telah diutarakan sodare ane, bahwa anak-anak kecil yang datang  itu adalah sodare-sodarenya yang dulu menyertai pada saat sodare ane dilahirkan, Wallahu ‘alam. Yang terakhir adalah sang Iblis yang datang mengaku sebagai Tuhan, karena sodare ane tergolong sudah dapat membedakan mana yang baik dan tidak, mana yang benar dan salah, maka pengakuan Iblis tersebut ditolaknya mentah-mentah,karena dia pernah belajar dan tahu bahwa “tiada Tuhan selain Allah, Tuhan yang tidak berwujud seperti manusia, dan sama sekali tidak serupa dengan manusia. Pengalaman pribadi yang real ini hendaknya menjadi renungan buat kita semua, bahwa kematian itu pasti akan datang menemui kita  yang hidup, kita hanya menunggu waktu dan giliran, kapan ajal akan menjemput, memisahkan roh dari jasad, kita pasti akan kembali kepada sang Khaliq, Tuhan pencipta alam semesta, hura-hara dan gangguan di saat detik-detik kematian pasti juga akan kita rasakan seperti halnya apa yang telah diceritakan  dan dirasakan sendiri oleh sodare ane, peristiwa dan cerita yang telah ane paparkan bukanlah suatu bualan kebohongan atau fiktf belaka, itu real terjadi di kehidupan sodare ane, yang sumbernya dari Ibu ane sendiri sebagai saksi hidup. Dan cerita yang ane paparkan ini baru saja ane peroleh sewaktu ane pulkam lebaran Idul  Adha kemarin, ketika ane dan Ibu ane berbincang-bincang di suatu malam, pada saat itu ayah ane juga ikut mendengarkan, ane menyimak dengan seksama cerita Ibunda dan ane rekam di memori otak, baru sekarang semua informasi yang ane dengar dari Ibunda ane publikasikan kepada siapa siapa saja yang membacanya. Semoga ini menjadi renungan buat kita semua, ternyata matu itu tidak mudahm harus melalui lika-liku dan gangguan, siapa yang terhindar dan melaluinya Dia akan selamat, siapa yang tidak Dia akan menjali calon penghuni Neraka, ane berkesimpulan bahwa peristiwa yang sodare ane alami bukan merupakan halusinasi tapi itu merupakan indikasi yang menunjukkan sodare ane tergolong hambanya yang baik. Terakhir ane mengutip sebuah kata-kata :  

خذ الحكمة من أي وعاء خرجت : Ambillah hikmah (ilmu) itu dari manapun  ia keluar (dari manapun sumbernya).

Tidak ada komentar: